PISANG GORENG PDF Print E-mail
Written by wendi   
Monday, 03 March 2008

 

KISAH DIBALIK SEPOTONG PISANG GORENG

I
ni kisah nyata yang benar terjadi. Meskipun sudah terjadi beberapa  tahun yang lalu, kisah ini menjadi kisah turun menurun di kalangan

Mahasiswa Sekolah Alkitab Lawang - Jawa Timur.
Aturan yang sgt ketat di asrama membuat uang menjadi tidak bernilai di

sekolah tersebut. Mereka tidak diijinkan membeli makanan di luar kampus

kecuali bila dikirim atau diberi oleh jemaat. Banyak mahasiswa yang

menggunakan waktu diantara jam penginjilan dan visitasi untuk mampir ke

warung terdekat untuk sekedar membeli bakso, soto atau minum es.

Dari sekian banyak jemaat yang mereka layani ada seorang nenek tua

bernama mbah Ginuk, meski umurnya udah lebih dari 70 tahun, ia hidup

sebatang kara tanpa sanak saudara dan harus bekerja sebagai tukang cuci

seminggu dua kali dengan gaji Rp. 1,000,- per kunjungan. Setiap seminggu

sekali ia selalu memberikan 15 ptg pisang goreng untuk bekal bagi

mahasiswa yang sedang praktek penginjilan di desanya sebagai bekal untuk dibawa

ke asrama. Pada mulanya, para mahasiswa menganggap ini suatu pemberian

yang menyenangkan dan mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi

dengan si pemberi berkat itu. Hingga suatu hari mereka mendapat kabar

kalau mbah Ginuk meninggal dunia karena sakit.

 

Seminggu setelah mbah Ginuk dikubur, ketika para mahasiswa sdg

melakukan praktek penginjilan di desa itu mereka berpikir bahwa tidak akan ada

lagi orang yang memberi mereka makanan. Ternyata, salah satu penduduk

desa tersebut datang menghampiri mereka sambil menyerahkan bungkusan

berisi 15 ptg pisang goreng untuk dibawa pulang. Usut punya usut, ternyata

mbah Ginuk sebelum meninggal telah menitipkan sejumlah uang ke penjual

pisang goreng tersebut. Sejak saat itu mereka menyadari betapa mulianya

persembahan yang dilakukan oleh mbah Ginuk bahkan sebelum mati pun ia

masih tetap memikirkan “memberi” untuk orang lain.
 

Cerita tersebut bisa menjadi cermin bagi kita :

1. Kalau kita memberi dari kelebihan kita itu suatu hal yang biasa,

tapi belajarlah memberi dari kekurangan kita dan kita akan melihat

betapa pemberian kita bisa menjadi berkat yang besar bagi orang lain.

2. Tuhan lebih menghargai pemberian dalam jumlah kecil yang mungkin

juga tidak berarti di mata manusia ( cuma pisang goreng ) tapi

diberikan dengan hati tulus ikhlas daripada persembahan mewah yang diberikan

dengan pamrih.
 

3. Ingatlah bahwa kalau kita memberi pada sesama yang membutuhkan,

berarti kita memberi pada Tuhan yang menciptakan manusia.

4. Belajarlah memberi dari kekurangan kita, dan kita akan mengetahui

bahwa Tuhan yang kita sembah itu bukan Allah yang suka ingkar janji.

Tuhan akan memberkati kita dengan berlipat kali ganda sesuai dengan

janjiNya bahkan tingkap - tingkap langit akan dibukakan bagi kita yang

percaya

kepadaNya.

5. Ingatlah pada hukum Tabur-Tuai, apa yang engkau tabur di masa

sekarang itulah yang kelak akan engkau tuai di masa mendatang.

Last Updated ( Monday, 03 March 2008 )
 
< Prev