MENGASIHI DI SAAT TEPAT PDF Print E-mail
Monday, 03 March 2008


 
MENGASIHI DI SAAT TEPAT
 

R
obertson MC Quilkin mengundurkan diri dari kedudukannya

sebagai rektor di Universitas Internasional Columbia dengan alasan

merawat istrinya, Muriel, yang sakit alzheimer yaitu gangguan fungsi

otak. Muriel sudah seperti bayi, tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan

untuk makan, mandi dan buang air pun ia harus dibantu. Robertson

memutuskan untuk merawat istrinya dengan tangannya sendiri,

karena Muriel adalah wanita yang sangat istimewa baginya. Namun

pernah suatu kali ketika Robertson membersihkan lantai bakas

ompol Muriel dan di luar kesadaran Muriel malah menyerakkan air

seninya sendiri, maka Robertson tiba-tiba kehilangan kendali

emosinya. Ia menepis tangan Muriel dan memukul betisnya, guna

menghentikannya. Setelah itu Robertson menyesal dan berkata

dalam hatinya, “Apa gunanya saya memukulnya, walaupun tidak

keras, tetapi itu cukup mengejutkannya. Selama 44 tahun kami

menikah, saya belum pernah menyentuhnya karena marah, namun

kini di saat ia sangat membutuhkan saya, saya memperlakukannya

demikian. Ampuni saya, ya Tuhan,” Lalu tanpa peduli apakah Muriel

mengerti atau tidak, Robertson meminta maaf atas hal yang telah

dilakukannya.

Pada tanggal 14 Februari 1995, Robertson dan Muriel, memasuki

hari istimewa karena pada tanggal itu di tahun 1948, Robertson

melamar Muriel. Dan pada hari istimewa itu Robertson memandikan

Muriel, lalu menyiapkan makan malam dengan menu kesukaan

Muriel dan pada malam harinya menjelang tidur ia mencium dan

menggenggam tangan Muriel lalu berdoa, “Yesus yang baik, Engkau

mengasihi Muriel lebih dari aku mengasihinya, karena itu jagalah

kekasih hatiku ini sepanjang malam dan biarlah ia mendengar

nyanyian malaikatMu. Amin”.

Pagi harinya, ketika Robetson berolahraga dengan menggunakan

sepeda statisnya, Muriel terbangun dari tidurnya. Ia berusaha untuk

mengambil posisi yang nyaman, kemudian melempar senyum manis

kepada Robertson. Untuk pertama kalinya setelah selama

berbulan-bulan Muriel yang tidak pernah berbicara memanggil

Robertson dengan suara yang lembut dan bening, “Sayangku….

sayangku…”, Robertson melompat dari sepedanya dan segera

memeluk wanita yang sangat dikasihinya itu.

“Sayangku, kau benar-benar mencintaiku bukan?” tanya Muriel.

Setelah melihat anggukan dan senyum di wajah Robetson, Muriel

berbisik, “Aku bahagia!” Dan ternyata itulah kata-kata terakhir yang

diucapkan Muriel kepada Robertson.

Memelihara dan membahagiakan orang-orang yang sudah

memberi arti dalam hidup kita adalah suatu ibadah di hadapan

Tuhan. Mengurus suami atau istri yang sudah tak berdaya adalah

suatu perbuatan yang mulia. Mengurus ayah/ ibu atau mertua adalah

tugas seorang anak ataupun menantu. Mengurus kakek atau nenek

yang sudah renta dan pikun juga adalah tanggung jawab para cucu.

Jangan abaikan mereka yang telah renta, apalagi ketika mereka

sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Peliharalah mereka dengan

kesabaran dan penuh kasih. (MS)

Last Updated ( Monday, 03 March 2008 )
 
< Prev   Next >