Melawan Godaan dosa
Oleh : Michael L. Brown
K
arena saya sering berbicara di depan umum di berbagai belahan dunia, saya sering kali menginap di hotel dan telah menjadi kebiasaan saya semenjak beberapa tahun yang lalu untuk meminta petugas hotel yang saya tinggali untuk menyingkirkan televisi dari kamar saya. Mengapa ?
Pertama, adalah terlalu mudah untuk membuang - buang waktu berharga untuk melayani, berdoa, belajar atau istirahat, dengan menonton acara - acara TV malam yang “aman” seperti olahraga dan siaran berita. Kedua, adalah terlalu mudah untuk melihat sekilas hal -hal yang tidak senonoh pada waktu kita memindah - mindah saluran. Ketiga, saya mengatakan hal ini dalam kapasitas seseorang yang tidak pernah membuang - buang uang untuk menonton siaran TV kabel di kamar hotel - adalah terlalu mudah bagi kita untuk melihat sesuatu yang menimbulkan dosa seperti film - film porno yang tersedia di sebagian besar hotel di Amerika dan Eropa.
Bagi saya, adalah lebih mudah menyuruh petugas hotel memindahkan pesawat televisi daripada menjadikan saya memboroskan waktu atau yang lebih buruk lagi, membiarkan pikiran saya terkontaminasi oleh gambar - gambar najis yang membakar hawa nafsu.
Sejujurnya, ada waktu - waktu tertentu dimana saya masih dapat menikmati kudapan tengah malam sambil menonton siaran - siaran olahraga.
Tetapi itulah pengorbanan saya untuk menghindari percobaan dalam kehidupan saya. Jika hal ini terasa ekstrem bagi anda, kemungkinan besar anda tidak pernah bepergian untuk pelayanan, urusan bisnis dan masuk dalam jadwal kerja yang ketat dan melelahkan. Setelah mengucapkan selamat malam kepada kolega dan teman - teman anda, anda mendapati diri anda sendirian di kamar, ribuan mil jauhnya dari rumah, dalam kondisi lelah.
Tiba - tiba mata anda menatap sebuah pesawat televisi besar di pojok kamar. Maka timbullah godaan untuk menyalakan televisi itu sebagai ‘teman’, agar suasana tidak terlalu sunyi. Mungkin acara - acara Kristen cukup menarik untuk menghidupkan suasana.
Tetapi masalahnya, sudah sering terjadi orang menggunakan waktu beberapa menit untuk menonton acara - acara yang baik, tetapi berakhir dengan menonton hal - hal yang kotor dari televisi yang sama. Karena itu, setiap kali saya bepergian, jika pihak hotel tidak mau memindahkan televisinya, maka saya minta resepsionis untuk memutus saluran TV kabel saya. Semua ini saya lakukan demi keselamatan saya sendiri.
Pada suatu hari, ketika sedang memikirkan tentang masalah - masalah yang ditimbulkan oleh televisi, saya bertanya kepada diri sendiri : “Kenapa tadi saya tidak minta pihak hotel untuk menyingkirkan TV itu ? Ini pasti karena saya sendiri masih ingin membuka kesempatan untuk menontonnya !”
Dari sini saya menarik sebuah kesimpulan : Jika sejak awal saya memiliki kesempatan untuk menutup pintu pada pencobaan tetapi saya gagal melakukannya, maka itu berarti saya sendiri sedang mencari - cari masalah. Dengan kata lain, bila saya tidak menjauhkan diri dari dosa, maka saya pasti sedang berjalan menuju ke arah dosa itu sendiri.
Dengan demikian, satu - satunya cara untuk mengatasi dosa dan kehendak daging ialah dengan : memiliki ketetapan hati untuk mengubah gaya hidup dan membuat pilihan - pilihan yang sulit dengan tenang, bijaksana dan berkepala dingin. Setelah itu, manakala pencobaan itu mengetuk pintu hati anda, segeralah membanting pintu hati dan menguncinya baik-baik.
Sebagai contoh, jika anda dan tunangan anda sepakat untuk tidak masuk ke apartemen anda dengan berdua saja, maka anda berdua lebih mudah menghindari dosa - dosa seksual. Peperangan itu dimenangkan sebelum dimulai. Sebaliknya, jika anda sudah tahu bahwa berdua - duaan di apartemen yang sepi adalah perbuatan yang sembrono, tetapi anda tidak mempedulikannya, itu berarti anda sedang mengundang pencobaan itu ke dalam hidup anda.
Lagi pula, jika anda melewatkan waktu berdua saja dengan tunangan anda di apartemen itu, mungkin anda sudah tidak mampu lagi menahan diri dari godaan dosa. Bagaimanapun, anda telah melemahkan kehendak anda sendiri dengan mengesampingkan “radar dosa” yang ditempatkan Allah dalam hati anda dan berkata “ya” kepada daging dengan menyerahkan diri pada keinginan - keinginan duniawi. Untuk mengatasi hal ini, lebih baik anda ‘memenggal’ tangan yang menyebabkan anda berbuat dosa - yang artinya, dalam kasus ini, mengurangi waktu - waktu berduaan dalam suasana yang romantis.
Tentu saja, secara harfiah kita memahami bahwa tangan, kaki dan mata tidak menyebabkan kita berbuat dosa. Kita berbuat dosa sebab kita menyerah kepada keinginan hati dan pikiran kita. Yesus berkata : “Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal - hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang ” (Markus 7:21- 23).
Kebenaran ini kembali mengingatkan kita bahwa kita tidak secara literal benar - benar mengamputasi tangan yang mencuri atau mencungkil mata yang memancarkan kebencian. Tetapi Tuhan ingin agar kita dapat bersikap tegas terhadap dosa. Pisahkan dosa itu dari kehidupan anda, amputasilah dia dari jiwa anda, campakkanlah itu dari hati anda - berapa pun harga yang harus dibayar ! Kita wajib siaga dan waspada terhadap dosa. Awas, sebuah tindakan yang sembrono dapat menjadi suatu malapetaka besar.