seperti "anjing mati" PDF Print E-mail
Written by jessica   
Saturday, 12 July 2008

Seperti "Anjing Mati"

Ayat bacaan : 2 Samuel 9 : 8

"Lalu sujudlah Mefiboset dan berkata : "Apakah hambamu ini, sehingga engkau menghiraukan anjing mati seperti aku?"
Ada seorang teman dari luar negeri yang pernah berkujung ke Indonesia. Dia kaget melihat banyak peminta2 hampir di tiap lampu merah. Dan ini ia jumpai bukan hanya di satu kota, melainkan di banyak kota. Saya ingat satu komentarnya, "Apakah salah negara ini sehingga banyak orang cacat yang membutuhkan bantuan seperti ini?" Sebenarnya bukan orang cacat itu lebih banyak di Indonesia dibanding negara-negara lain, tapi rasa ketidakmampuan, rasa rendah diri pada mereka yang cacat biasanya lebih banyak dijumpai dinegara2 yang masih dililit kerisis seperti kita. Masih banyak orang merasa risih melihat orang yang fisiknya tidak lengkap. Bayangkan jika hal itu mereka hadapi setiap hari dari kecil, mereka akan terbentuk menjadi pribadi yang rendah diri dan dihantui bayang2 kegagalan dan kesia-siaan sepenjang hidupnya.

 

Dalam Alkitab tercatat kisah Mofiboset. Dia adalah anak Yonatan, cucu saul. Kakinya cacat akibat jatuh dari pangkuan pengasuhnya. Dia diasingkan di sebuah tempat yang tandus, Lodebar. tidak heran Mofiboset merasa dirinya sangat rendah, memandang dirinya tidak lebih dari anjing mati. Bertapa terkejutnya mofiboset ketika Daud memanggilnyadan memperlakukannya seperti salah seorang anak raja.Daud ingin memulihkan semua hak milik Mofiboset, termasuk harga dirinya. Mofiboset kemudia tinggal di Yerusalem dan maka sehidanga dengan raja Daud.
Sebuah kisah yang bertolak belakang datang dari Korea. Bulan lalu Indonesia mendapat kunjungan dari hee Ah Lee, pianis berusia 22 tahun. Ah Lee lahir cacat. dia hanya punya total 4 jari dari kedua tangannya, sehingga terlihat seperti capit kepiting. kakinya juga hanya sampai paha. sejak kecil ia diejek teman2nya, disebut anak setan atau dikata2i setan air., tetapi dia tidak perbah menangis atau menyesali diri. Lee terus berjuag belajar piano, meskipun rata2 guru piano menolaknya. Ketika orang normal belajar satu lagu dalam waktu relatif singkat, Lee butuh waktu 5 tahun berlatih selama 10 jam sehari untuk menguasai satu lagu, Fantasia Impromtu. Hasilnya? Puji Tuhan, bukan hanya berhasil menguasi piano, Lee juga telah membuat dua album dan telah berkeliling dunia. Selain itu, dia juga tetap aktif melayai sebagai pianis di gereja. Luar biasa. Lee berhasil karena dia tidak pernah putus pengharapan, dan percaya Tuhan memberkati siapapun yang terus berusaha dan percaya bahwa dalam Tuhan tidak ada yang mustahil.
Cacat atau tidak, banyak diantara kita yang memiliki rasa rendah diri berlebih, atau mengasihani diri sendiri secara berlebihan. Apakah karena himpitan problem hidup, atau dosa yang pernah dilakukan, banyak orang merasa dirinya tidak layak untuk berhasildalam hidupnya. Kita lebih memandang apa yang buruk pada diri kita dari pada apa yang benar dengan hubungan kita pada Yesus, yang telah mengorbankan hidupNya untuk kita dan memberikan kita kebenarannNya. Kita telah ditebus, dimetraikan dan disahkan dalam Yesus kristus, dan perjanjian itu kekal. Setiap pribadi berharga bagiNya, dan tidak ada yang mustahil buat Tuhan. Tuhan mengasihi setiap anak2Nya, apapun kondisi kita. Dalam segala kekurangan dan keterbatasan, Tuhan bisa mengubah itu semua, karena justrudalam kelemahan kita kuasa Tuhan menjadi sempurna. Tidak ada kata menyerah dalam kamus anak2 Tuhan dalam setiap langkah dan denyut nadi kita, dalam nama Yesus, ada pengharapan luar biasa.

Last Updated ( Saturday, 02 August 2008 )
 
< Prev   Next >